Pasar Tenang Saat Muncul Kabar Buruk Twin Deficit, Kok Bisa?

Berita, Teknologi26 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar berjalan cukup tenang pada hari ini sekalipun ada kabar buruk yang dilaporkan Bank Indonesia (BI). Di mana pertama kali sejak 2021 silam, transaksi berjalan serta transaksi modal dan finansial alami defisit.

“Yang mendorong pelemahan rupiah, lebih ke current account deficit yang tiba-tiba nongol nih, sebelumnya kan surplus. Ini akan merisaukan investor kalau belum terprediksi,” kata EVP Treasury & International Banking BCA, Branko Windoe kepada CNBC Indonesia dalam program Power Lunch, Rabu (23/8/2023)

Kemarin (22/8/2023) BI merilis data transaksi berjalan yang mengalami defisit Indonesia sebesar US$1,9 miliar atau 0,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2023. Defisit ini adalah yang pertama sejak kuartal II-2021.

Sedangkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit sebesar US$ 7,37 miliar pada kuartal II-2023. Defisit ini adalah yang pertama sejak kuartal III-2022.Defisit pada April-Juni 2023 juga berbanding terbalik dengan surplus sebesar US$ 6,52 miliar pada Januari-Maret 2023.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,13% terhadap dolar AS di angka Rp15.290/US$ pada hari Rabu (23/8/2023). Di tengah perdagangan, rupiah sembat melemah hingga ke titik tertinggi di angka Rp15.328/US$.

Hal ini kembali melanjutkan penguatan rupiah yang juga menguat 0,7% kemarin. Penguatan ini juga mengeluarkan rupiah dari level psikologis Rp15.300/US$ setelah terjebak di sana dalam dua hari sebelumnya.

Menurut Branco, defisit pada transaksi berjalan sudah diperkirakan sebelumnya. Seiring dengan situasi global yang memburuk. Amerika Serikat (AS) bahkan diramal akan resesi, sehingga suku bunga acuan bisa diturunkan Federal Reserve (Fed) pada akhir 2023. Meksipun pada kenyataannya sedikit bergeser karena ekonomi AS masih tumbuh.

Baca Juga  Udara Tembus 40 Derajat Celsius, Belasan Penonton Konser Snoop Dogg Dilarikan ke RS

Di sisi lain harga komoditas alami pelemahan tajam dibandingkan dua tahun terakhir. Terutama pada komoditas ekspor andalan Indonesia, yaitu batu bara, minyak kelapa sawit (CPO) dan lainnya. “Kita melihat situasi ini, neraca akan¬†kembali negatif kalau harga komoditas tetap turun dan resesi di dunia,” paparnya.

Kekhawatiran berikutnya adalah seberapa jauh penurunan harga komoditas ke depannya. Di samping itu juga kondisi AS dan China yang bisa mempengaruhi pergerakan di pasar keuangan. “Jadi walaupun bukan goodnews tapi di market sudah price in. Kita gak terlalu kaget,” tegas Branco.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Intip Digitalisasi Pasar Tradisional yang Menggunakan QRIS

(mij/mij)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *